Rintik hujan datang dipagi ini ketika bel sekolahku berbunyi. Bau petrichor yang menyapa hidungku,membuatku semakin malas mengikuti pelajaran pak Jono. Pak Jono ialah guru matematikaku dikelas 12 ini. Meskipun ini tahun terakhirku di SMA ,aku bukannya semakin rajin malah semakin malas untuk mengikuti semua pelajaran. Terkecuali olahraga. Yaa olahraga menjadi penyemangatku untuk tetap berangkat ke sekolah.
Selama pelajaran berlangsung , kupandang hujan dari balik jendela yang berkabut disampingku. Hmmm... berapa lama lagi pelajaran terkutuk ini akan selesai? ,pikirku. Hujan semakin deras,aku semakin larut dalam lamunanku hingga tiba tiba terdengar gelak tawa dari lapangan basket. Sontak membuatku menoleh ke arah lapangan.
Dia.
Ditengah hujan lebat seperti ini ketika siswa lain memilih untuk berteduh,dia dan kedua temannya sajalah yang masih bermain basket dengan penuh tawa. Tawa. Sebentar. Apakah aku mengatakan kalo dia tertawa?
Seketika aku mematung ,menatapnya atau lebih tepatnya takjub.
"Dia tertawa" bisikku tanpa sadar.
"Ryl, lo ngomong apa tadi?" ya dia Neta, teman sebangkuku dari awal masuk SMA.
"Hahh.. apa net? " dengan muka cengo.
"Sheryl Alfia yang lolanya setengah mampus, elo tadi bisik bisik ngomong apa huhhh?"
Ahh... keceplosan. " hahahaha.. bukan apa apa net, kepo banget sih lo"
Perdebatanpun berakhir saat bel istirahat berbunyi.
"Kantin yukk,laper nih"
"Laper? Laper atau mau ngeliatin dia hahahaha"
"Sialan ya net, yuk lah lama banget sih" Dengan sigap ku tarik tangannya dan ku seret dia ke kantin.
Bisa debat lagi kalo diterusin -__-
"Mau makan apa ryl?" tanya Neta sesampainya dikantin.
" Gak ahh , males. Elo aja yang makan gih. Gue es teh aja." sembari pandanganku menyapu keseluruh penjuru kantin.
Seperti mencari. Yaa... aku memang sedang mencari seseorang.
" SHERYL !!!!! Lo dengerin gue gak sihhh" dijitaknya kepalaku dengan sangat lihainya.
begitulah Neta, hobinya yang ringan tangan dengan mulutnya yang cerewet. Tapi gabisa kalo harus pisah sama dia hahahahaaa...
"Iya denger denger. Net, btw kok dia gak ngantin ya hari ini atau kitanya yang telat ngantin?" sambil ku seruput es tehku
"Yaelah... elo gak bosen apa ngliatin dia kegini. Heran gue sama lo"
aku hanya tersenyum mendengar perkataan Neta. Bosen? hahhahaha Entah kapan aku akan mengatakan hal itu kalau bersangkutan dengan dia.
Bel masukpun berbunyi, kamipun kembali ke kelas. sepanjang jalan kami yang gak bisa diem terus terusan bercanda ,saling dorong yayaya.. kita memang sedikit gila. Tanpa sengaja aku menabrak seseorang di koridor hingga terjatuh.
eh. kenapa aku yang jatoh sendiri. Seharusnya bukannya yang kutabrak juga jatoh yaa. Semakin sibuk dengan otakku sendiri
"eh kamu gamau bangun nih? nanti telat masuk kelas loh."
Lamunanku sekerika buyar. Dan kuliat sebuah tangan mengulur kearahku. Ku cari darimana asal tangan itu.dan ternyata .
Dia. Dia yang barusan ku tabrak. Dia yang ngulurin tangan Yang bener aja.
"Heiii malah ngelamun. sinih bangun ntar telat kamu masuk kelas." dia narik tanganku hingga aku berdiri .
"ehh sori sori,kebiasaan. makasi yaa. dahhh gue buru buru." dengan langkah seribu aku kabur . Takut jantungku keburu konslet.
"Sheryllllllllll, tungguinnnnnn"
ehhh Neta aku tinggal ternyata. hahahaaa biarin deh
. Aku masih saja kacau. Kenapa dia selalu berhasil membuatku kacau seperti ini. Kenapa dia sangat mendominasi pikiranku dan juga. Hatiku.
Sialan lo, Panji Arta Permana.
-to be continued-